Cerpen: Resonansi di Ujung Cakrawala

         Langit di atas SMAN 1 Nusantara seolah terbelah oleh gradasi warna jingga yang memar, sisa-sisa pertarungan antara siang yang enggan pergi dan malam yang dipaksa datang. Di koridor lantai dua, bau pembersih lantai yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan aroma debu dari buku-buku tua yang baru saja dikeluarkan dari perpustakaan. Suasana sunyi, hanya menyisakan derit sepatu yang beradu dengan ubin porselen. Di ujung lorong, Arga berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, punggungnya bersandar pada dinding yang catnya mulai mengelupas. Matanya yang tajam bak elang pengintai menatap lurus ke satu titik: Senja.

Senja adalah personifikasi dari ketertiban yang membosankan. Gadis itu sedang merapikan tumpukan proposal organisasi siswa dengan presisi yang menyebalkan. Rambutnya diikat kuda dengan sangat rapi, tidak ada satu helai pun yang berani memberontak keluar dari tatanannya. Bagi Arga, Senja adalah gangguan frekuensi dalam hidupnya yang santai dan penuh improvisasi. Bagi Senja, Arga adalah anomali yang seharusnya tidak pernah ada dalam sistem pendidikan yang beradab.

"Loe nggak bosan jadi penjilat guru?"

Suara Arga memecah keheningan, berat dan penuh nada mengejek. Senja tidak menoleh. Jari-jarinya yang lentik tetap lincah menyusun kertas-kertas putih itu.

"Daripada loe, Arga? Jadi parasit sekolah yang cuma tahu cara bikin onar dan ngerusak rata-rata nilai kelas?"

Senja menjawab tanpa intonasi yang berlebihan, namun setiap katanya tajam seperti sembilu. Dia berbalik, menatap Arga dengan mata cokelatnya yang jernih namun dingin. Ada kilat permusuhan yang sudah mengakar selama dua tahun terakhir di sana. Mereka adalah kutub utara dan selatan yang dipaksa berada di satu ruang kelas yang sama.

Arga mendengus, melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa sekian sentimeter. Dia bisa mencium aroma sampo apel dari rambut Senja, sebuah kontradiksi dari kepribadian gadis itu yang pahit. Arga mencondongkan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Senja yang mulai berkilat marah.

"Gue nggak butuh nilai buat bertahan hidup. Dunia nyata nggak butuh angka di atas kertas, Senja. Loe terlalu sibuk sama aturan sampai lupa caranya ‘bernafas’."

Senja tersenyum sinis, sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai kerutan kelopak mata. Dia meletakkan tumpukan kertas itu di atas meja dengan suara brak yang cukup keras untuk menggema di koridor yang sepi.

"Bernapas itu otomatis, Arga. Yang susah itu punya otak yang berfungsi. Tapi gue maklum, mungkin sel otak loe udah habis buat mikirin gimana cara bolos hari ini."

Arga memonyongkan bibirnya ke samping kanan dan kiri. Rahangnya mengeras. Dia benci bagaimana Senja selalu punya jawaban untuk setiap serangannya. Dia benci bagaimana gadis ini terlihat begitu teguh, seolah-olah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa meruntuhkan benteng pertahanannya. Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Sebuah pengumuman di papan mading keesokan harinya mengubah segalanya. Proyek kolaborasi lintas mata pelajaran untuk kelulusan: Arga dan Senja harus bekerja sama dalam sebuah penelitian sosiologi tentang komunitas marjinal selama tiga bulan ke depan.

Minggu-minggu awal adalah neraka yang nyata. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdebat tentang metodologi daripada benar-benar melakukan penelitian. Di sebuah kafe kecil di sudut kota, saat hujan turun dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan bumi, mereka terjebak dalam kebisuan yang canggung. Suara rintik hujan yang menghantam atap seng terdengar seperti ribuan peluru kecil yang jatuh dari langit. Tik, tik, tik.

Arga menyesap kopi hitamnya yang pahit, matanya menatap ke luar jendela yang berembun. Dia melihat pantulan wajah Senja di kaca. Gadis itu tampak pucat, jauh lebih pucat dari biasanya. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang biasanya selalu terlihat segar.

"Loe sakit?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arga, tanpa filter. Senja tersentak sedikit, tangannya yang sedang memegang pulpen bergetar halus. Dia segera menyembunyikannya di bawah meja.

"Bukan urusan loe. Fokus aja sama data yang belum loe input."

Arga meletakkan cangkirnya dengan cepat. Klung. Suara keramik beradu dengan meja kayu itu terdengar sangat nyata. Dia merasa jengah dengan sikap defensif Senja yang seolah tidak pernah berakhir.

"Gue serius, Senja. Loe dari tadi cuma nulis satu kalimat yang sama berulang-ulang. Loe nggak fokus. Kalau loe mau mati karena kecapekan, jangan ajak-ajak gue dalam proyek ini."

Senja terdiam. Dia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya. Tiba-tiba, setetes cairan bening jatuh ke atas kertas penelitian mereka. Kemudian setetes lagi. Arga membeku. Dia belum pernah melihat Senja menangis. Dalam bayangannya, Senja adalah robot yang terbuat dari baja dan aturan formal. Namun kini, di depannya, baja itu retak.

"Gue... gue cuma capek, Arga. Capek banget."

Suaranya parau, pecah seperti kaca yang dihempaskan ke lantai beton. Arga tidak tahu harus berbuat apa. Dia yang biasanya pandai berdebat, kini lidahnya kelu. Dia mengulurkan tangan secara ragu-ragu, lalu perlahan menepuk bahu Senja. Gadis itu tidak menolak. Dia malah menyandarkan kepalanya di lengan Arga, membiarkan isak tangisnya pecah di tengah deru hujan yang semakin menggila.

Sejak sore itu, dinding tinggi yang memisahkan mereka mulai runtuh. Arga mulai melihat sisi lain dari Senja; sisi yang rapuh, yang menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, dan yang memiliki tawa kecil yang terdengar seperti denting lonceng angin. Sebaliknya, Senja mulai memahami bahwa pemberontakan Arga hanyalah sebuah mekanisme pertahanan terhadap ekspektasi ayahnya yang otoriter. Arga memiliki bakat melukis yang luar biasa, namun dia menyembunyikannya di balik coretan-coretan abstrak di buku catatan yang tidak pernah dikumpulkannya.

Mereka mulai menghabiskan waktu lebih dari sekadar untuk tugas sekolah. Mereka mendaki bukit di pinggiran kota untuk melihat matahari terbenam. Di sana, di bawah langit yang berubah warna menjadi ungu gelap, Arga menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah dan kebebasan.

"Kenapa nama loe Senja? Padahal loe lebih mirip fajar yang selalu maksa orang bangun pagi," goda Arga sambil duduk di atas rumput yang masih menyisakan embun.

Senja tertawa pelan. Tawa itu indah, sebuah simfoni yang Arga ingin dengar setiap hari selama sisa hidupnya.

"Karena Ibu bilang, senja itu waktu yang paling jujur. Dia nunjukin kalau keindahan itu nggak harus abadi buat bisa dikenang. Dia singkat, tapi berkesan."

Arga menoleh, menatap profil wajah Senja yang diterangi sisa cahaya matahari. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan. Deg-deg, deg-deg. Ada perasaan yang mekar di dadanya, sebuah bunga yang tumbuh di antara celah bebatuan kebencian yang dulu dia pelihara. Dia meraih tangan Senja, jemari mereka bertautan, terasa hangat dan pas, seolah dua kepingan teka-teki yang akhirnya menemukan pasangannya.

"Gue benci loe, Senja," bisik Arga, wajahnya mendekat.

"Gue juga benci banget sama loe, Arga," balas Senja dengan napas yang memburu.

Lalu, di bawah kesaksian bintang pertama yang muncul di ufuk timur, mereka berangkulan. Rangkulan itu membasuh semua rasa benci, menggantinya dengan janji-janji bisu yang melayang di udara malam yang dingin. Saat itu, Arga merasa dia adalah penguasa dunia, dan Senja adalah takdirnya. Namun, dia tidak menyadari bahwa semesta seringkali memberikan kebahagiaan hanya untuk diambil kembali dengan cara yang paling menyakitkan.

Memasuki bulan kedua hubungan mereka, Senja semakin sering menghilang. Dia tidak masuk sekolah selama berhari-hari dengan alasan izin sakit ringan. Arga yang cemas mendatangi rumah Senja, sebuah bangunan bergaya kolonial yang terlihat megah namun sepi. Dia menemukan Senja di kamarnya, dikelilingi oleh tabung oksigen dan berbagai macam obat yang namanya terlalu rumit untuk dieja.

"Loe bohong sama gue," suara Arga gemetar. Dia berdiri di ambang pintu, matanya memanas melihat wanita yang kini menjadi kekasihnya terlihat sangat kurus, kulitnya hampir transparan sehingga pembuluh darahnya terlihat jelas.

Senja tersenyum lemah dari balik masker oksigennya. Dia memberi isyarat agar Arga mendekat. Arga berlutut di samping tempat tidurnya, menggenggam tangan Senja yang terasa sedingin es.

"Gue nggak mau loe liat gue kayak gini, Ga. Gue mau loe inget gue sebagai Senja yang galak, yang suka ngatur-ngatur loe," bisik Senja. Suaranya nyaris hilang, tertutup oleh desis mesin oksigen. Ssshh... ssshh...

"Apa ini? Loe sakit apa sebenarnya?"

Senja menatap langit-langit kamarnya yang putih pucat. "Gagal jantung. Sudah dari lahir. Dokter bilang, gue bertahan sampai umur tujuh belas aja itu udah keajaiban. Dan sekarang... keajaibannya kayaknya mau habis."

Dunia seolah runtuh menimpa pundak Arga. Dia merasa sesak, oksigen di ruangan itu seolah disedot habis. Dia ingin berteriak, ingin memukul dinding, ingin marah pada tuhan atas ketidakadilan ini. Bagaimana mungkin dia baru saja menemukan alasan untuk menjadi orang yang lebih baik, hanya untuk diberitahu bahwa alasan itu akan segera pergi?

"Nggak. Gue nggak bakal biarin loe pergi. Kita cari donor, kita ke luar negeri, kita..."

"Arga, dengerin gue," potong Senja dengan sisa tenaganya. Dia membelai pipi Arga dengan ibu jarinya yang lemah. "Waktu itu kayak pasir, makin kuat loe genggam, makin cepat dia lari dari celah jari loe. Gue cuma mau kita nikmatin sisa pasir yang ada di tangan kita sekarang. Tanpa tangisan. Tolong."

Arga menelan ludah, berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia mengangguk pelan. Selama beberapa minggu berikutnya, kamar Senja berubah menjadi pusat dunianya. Dia membawa kanvas dan cat ke sana. Dia melukis Senja setiap hari. Dia melukis Senja yang sedang tertawa, Senja yang sedang membaca, bahkan Senja yang sedang tertidur lelap. Setiap goresan kuas adalah doa yang dia panjatkan secara diam-diam. Sret, sret, sret. Suara kuas di atas kanvas menjadi musik latar hari-hari mereka.

Suatu malam, badai besar melanda kota. Angin meraung-raung di luar jendela seperti serigala kelaparan. Petir menyambar dengan kilatan putih yang membutakan, diikuti oleh dentuman guntur yang menggetarkan kaca jendela. Jedarrr! Listrik di rumah Senja padam. Hanya ada cahaya dari beberapa batang lilin yang menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah pintu.

Senja tampak sangat gelisah. Napasnya pendek-pendek dan berat. Arga mendekapnya erat, berusaha memberikan kehangatan tubuhnya sendiri.

"Ga... kalau berkenan, tolong nyanyiin lagu buat gue," pinta Senja lirih.

Arga bukan penyanyi yang baik, tapi malam itu dia menyanyikan lagu favorit Senja dengan suara yang bergetar karena emosi. Lagu tentang pertemuan yang singkat namun abadi. Dia merasakan tubuh Senja mulai melemas dalam pelukannya. Tangan gadis itu, yang tadinya memegang kaus Arga dengan kuat, perlahan kehilangan tenaganya.

"Arga... makasih udah... jadi bagian dari senja gue yang paling indah..."

"Senja? Senja, dengerin gue. Jangan tidur dulu. Bentar lagi pagi. Loe bilang mau liat fajar bareng gue, kan?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara badai di luar yang semakin menggila. Arga merasakan keheningan yang luar biasa dari dada Senja. Tidak ada lagi detak jantung yang biasanya beradu dengan detaknya. Tidak ada lagi napas yang hangat di lehernya. Senja telah pergi, mengikuti angin badai yang membawanya jauh ke tempat di mana rasa sakit tidak lagi ada.

"Senja!"

Teriakan Arga tenggelam oleh suara guntur. Dia menangis sejadi-jadinya, mendekap tubuh dingin itu dengan putus asa. Malam itu, di tengah kegelapan, Arga kehilangan dunianya. Dia kehilangan musuh terbesarnya, dan cinta sejatinya, dalam satu hembusan napas yang sama.

Beberapa bulan setelah pemakaman, Arga berdiri di podium aula sekolah pada hari kelulusan. Dia terpilih sebagai siswa dengan kemajuan akademik paling pesat, sebuah penghormatan untuk Senja yang selalu mendorongnya belajar. Di depannya, ratusan siswa dan orang tua duduk dengan khidmat. Arga tidak membawa naskah pidato. Dia hanya membawa sebuah buku catatan kecil yang sampulnya bergambar bunga apel.

"Cinta sejati itu bukan tentang berapa lama kita bersama," suara Arga menggema di seluruh aula, jernih dan kuat meskipun ada luka yang masih menganga di dalamnya. "Tapi tentang bagaimana seseorang bisa mengubah kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, bahkan ketika dia sudah tidak ada lagi di samping kita. Gue belajar ini dari seseorang yang dulu sangat gue benci, dan sekarang menjadi yang sangat gue cintai."

Dia berhenti sejenak, menatap kursi kosong di barisan depan yang seharusnya ditempati oleh Senja. Di atas kursi itu, terdapat sebuah karangan bunga lili putih dan toga kelulusan milik Senja. Arga tersenyum pahit. Air mata jatuh tanpa bisa dia bendung lagi.

"Dia adalah Senja dalam hidup gue. Indah, singkat, dan meninggalkan kegelapan yang panjang. Tapi di dalam kegelapan itu, gue akhirnya bisa liat bintang-bintang yang selama ini nggak pernah gue sadari keberadaannya. Terima kasih, Senja. Selamat tinggal."

Arga turun dari podium saat seluruh aula berdiri dan memberikan tepuk tangan yang riuh. Namun bagi Arga, dunia tetap terasa sunyi. Dia berjalan keluar dari aula, menuju bukit tempat mereka dulu duduk bersama. Dia duduk di tempat yang sama, mengeluarkan sebuah lukisan terakhir yang belum pernah dia tunjukkan pada siapapun. Lukisan Senja yang sedang tersenyum lebar ke arah matahari fajar, dengan latar belakang langit yang bukan lagi jingga memar, melainkan emas yang cerah.

Angin sore berhembus, menerpa wajah Arga. Dia seolah mendengar suara tawa Senja di antara desis daun-daun kering. Hihihi. Dia memejamkan mata, membiarkan kenangan itu membungkusnya seperti selimut hangat. Cinta mereka memang berakhir dengan kesedihan, namun dalam kesedihan itu, Arga menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Bahwa mencintai seseorang berarti berani menanggung risiko kehilangan, dan dia tidak menyesali satu detik pun dari rasa sakit itu.

Di ufuk barat, matahari mulai tenggelam, menciptakan warna jingga yang sama seperti saat mereka pertama kali menyadari perasaan masing-masing. Arga terus menatap ke sana, ke arah senja yang abadi di dalam hatinya, sampai langit benar-benar menjadi hitam dan bintang-bintang mulai bercerita tentang sebuah kisah cinta yang takkan pernah lekang oleh waktu, meskipun sang kekasih telah lama berpulang ke pelukan keabadian.

Loe menang, Senja. Loe berhasil bikin gue jadi orang yang lebih baik, meskipun loe nggak ada di sini buat liat hasilnya, batin Arga. Dia mengusap permukaan kanvas itu dengan lembut. Tunggu gue di ujung cakrawala sana. Nanti kita lanjutin lagi perdebatan kita yang belum selesai.

Suara langkah kaki Arga yang menjauh dari bukit itu terdengar tegas. Dia tidak lagi berlari dari kenyataan. Dia berjalan dengan kepala tegak, seolah membawa separuh jiwa Senja di dalam setiap langkahnya. Karena meskipun raga bisa hancur dan waktu bisa berhenti, resonansi dari sebuah kenangan manis dalam bingkai cinta sejati bisa terus bergema, melampaui batas ruang dan waktu, hingga akhir dari segalanya.


***TAMAT***

Baca Selengkapnya>>
posted under | 0 Comments

Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 5

 

Chapter 5: Muara Cahaya di Balik Lumpur

Dunia seringkali menganggap bahwa kejatuhan adalah akhir dari sebuah riwayat, padahal bagi jiwa-jiwa yang berpaut pada langit, kejatuhan hanyalah cara Tuhan untuk membumikan akar agar pohonnya kelak tumbuh lebih perkasa. Shobir kembali ke pinggiran TPA bukan sebagai pecundang yang memikul duka, melainkan sebagai seorang pejuang yang pulang ke pangkuan garis start-nya. Aroma sampah yang menyengat tak lagi dirasanya sebagai kutukan, melainkan bau perjuangan yang telah membentuk sel-sel ketabahannya.

Di bawah naungan terpal biru yang bocor, di sebuah lahan tak bertuan di pinggir pemukiman kumuh, Shobir mulai merakit kembali mimpinya. Kali ini, ia tidak menggunakan baja presisi dari pabrik Jerman, melainkan pipa-pipa paralon bekas, drum minyak yang sudah berkarat, dan kabel-kabel tembaga yang ia kumpulkan dari sisa pembakaran sampah. Orang-orang di sekitar sana memandangnya dengan iba, menyangka pemuda berotak cemerlang itu telah kehilangan kewarasannya setelah dikhianati di kota besar.

"Shobir, mengapa kau menyiksa dirimu seperti ini? Dengan ijazahmu, kau bisa bekerja di perusahaan mana pun tanpa harus berkubang lumpur lagi," ujar Pak Gani, yang kini rambutnya telah memutih seluruhnya, saat berkunjung ke bengkel darurat Shobir.

Shobir menyeka keringat yang bercampur jelaga di keningnya, lalu tersenyum—sebuah senyuman yang memancarkan kedamaian niskala. "Pak Gani, dulu saya memulung sampah untuk menyambung nyawa. Sekarang, saya 'memulung' harapan. Teknologi yang dicuri itu mungkin bisa menerangi gedung pencakar langit, tapi teknologi yang saya bangun dari barang bekas ini akan menerangi rumah-rumah yang selama ini dilupakan oleh cahaya."

Berita tentang "Si Jenius Sampah" yang membangun pembangkit listrik mandiri untuk warga TPA akhirnya meledak di media sosial. Sesuatu yang dibangun dengan ketulusan memiliki frekuensi yang berbeda; ia menarik hati orang-orang yang memiliki resonansi serupa. Tanpa perlu skema bisnis yang rumit, bantuan mulai mengalir. Bukan dari investor yang rakus akan saham, melainkan dari ribuan tangan-tangan kecil yang tergerak oleh narasi perjuangan Shobir. Modal pun terkumpul melalui crowdfunding, dan "Lentera Cahaya" lahir bukan sebagai perusahaan, melainkan sebagai sebuah yayasan sosial berbasis teknologi.

Sepuluh tahun berlalu dengan kecepatan yang menakjubkan. Shobir Al-Muchtar kini berdiri di atas podium sebuah forum ekonomi dunia di Jenewa. Ia tidak lagi memakai kaos lusuh, melainkan setelan jas yang rapi, namun matanya tetaplah mata bocah pemulung yang jernih dan penuh syukur. Di hadapan para pemimpin dunia, ia tidak bicara tentang grafik keuntungan, melainkan tentang martabat manusia.

"Syukur adalah modal yang tak bisa bangkrut," ucapnya, suaranya menggema di aula yang megah itu. "Ketika saya kehilangan segalanya, saya menyadari bahwa saya masih memiliki Tuhan dan ilmu. Itulah aset paling berharga. Kemiskinan bukanlah tentang ketiadaan harta, tapi tentang hilangnya harapan dan rasa syukur kepada Sang Pemberi Hidup."

Kerajaan bisnis sosialnya, "Lentera Cahaya", telah bertransformasi menjadi konglomerasi kemanusiaan. Mereka memiliki ratusan pabrik pengolahan limbah yang tersebar di negara-negara berkembang, yang semuanya dikelola oleh anak-anak yatim dan mantan tunawisma yang telah disekolahkan oleh yayasannya. Shobir berhasil membuktikan bahwa garis kemiskinan bisa diputus bukan hanya dengan uang, tapi dengan pendidikan yang dilandasi iman yang kokoh.

Sekembalinya ke tanah air, Shobir menyempatkan diri mengunjungi sebuah panti jompo mewah yang ia bangun secara khusus. Di sana, ia mendengar kabar bahwa Adrian, pria yang dulu mengkhianatinya, telah jatuh miskin setelah perusahaan teknologinya hancur karena skandal korupsi dan kegagalan teknis. Mesin yang dicuri Adrian tak pernah bekerja maksimal karena Adrian hanya memiliki raganya, tanpa memiliki "jiwa" dan filosofi perawatannya.

Shobir menemukan Adrian sedang duduk termenung di sebuah taman kota sambil berdzikir dengan memegang kalung tasbih ditangannya, nampaknya ia kini sudah menyadari kesalahannya tempo lalu dan bertobat dengan sungguh – sungguh. Menurut orang - orang disekitarnya juga, ia selalu menunaikan ibadah shalatnya dengan khusyuk dan berdoa sampai menangis. Penampilannya nampak kusam dan kumal. Melihat itu, sudah tidak ada lagi kemarahan di hati Shobir. Ia menghampirinya dan meletakkan sebuah kartu nama di tangannya.

"Dunia ini luas, Adrian. Jika kau ingin belajar tentang bagaimana cara membangun sesuatu yang tak bisa hancur oleh waktu, datanglah ke kantorku. Kita butuh tenaga ahli untuk proyek di Afrika," ujar Shobir lembut.

Adrian mendongak, matanya berkaca-kaca melihat ketulusan yang tak masuk akal di hadapannya. "Tapi mengapa, bir? Setelah apa yang kulakukan padamu?"

Shobir menepuk pundak Adrian, persis seperti yang dilakukan Pak Rahman padanya dulu. "Karena dendam hanya akan mematikan lentera di hatiku. Dan aku butuh cahayaku tetap terang untuk menerangi jalan orang lain."

Kisah ini berakhir di sebuah senja yang jingga, di pemakaman pinggiran kota yang kini telah nampak jauh lebih asri. Shobir bersimpuh di depan nisan Nenek Salmah yang telah ia renovasi dengan indah namun tetap sederhana. Di tangannya, ia memegang sebuah buku laporan tahunan yayasannya yang menunjukkan bahwa ribuan anak yatim kini telah meraih gelar sarjana dan hidup layak.

"Nenek, lihatlah..." bisik Shobir parau, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Cahaya itu tidak pernah padam. Syukur yang Nenek ajarkan di tengah tumpukan sampah, kini telah menjadi obor yang menerangi dunia. Ana uhibbuki fillah, Nek. Terima kasih telah mengajarkanku cara memandang Tuhan di balik setiap cobaan."

Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan seolah memberikan restu. Shobir berdiri, memandang ke ufuk di mana matahari mulai terbenam. Ia tahu, esok matahari akan terbit lagi, membawa kesempatan baru untuk bersyukur. Hidupnya adalah bukti nyata, bahwa bagi siapa saja yang menggantungkan harapannya setinggi langit namun kakinya tetap membumi dalam ruku' dan sujud, tak ada lubang kemiskinan yang terlalu dalam untuk tak bisa didaki menuju puncak kemuliaan.

 

*** TAMAT ***

Baca Selengkapnya>>
posted under | 0 Comments

Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 4

 

Chapter 4: Meniti Karang di Puncak Terjal

Waktu adalah penenun yang paling tekun. Ia merajut hari demi hari dengan benang-benang pengalaman, hingga tanpa disadari, sosok bocah kecil yang dulu memulung di gunungan sampah telah bertransformasi menjadi seorang pemuda dengan tatapan setajam elang, namun tetap memiliki keteduhan telaga. Shobir Al-Muchtar kini bukan lagi nama yang asing di koridor universitas ternama. Ia adalah sang pemegang beasiswa penuh, jenius teknik lingkungan yang skripsinya menjadi perbincangan para profesor karena menawarkan solusi radikal bagi masalah limbah perkotaan.

Di sebuah bengkel kerja sederhana yang ia sewa dari sisa tabungan dan hasil memenangkan berbagai kompetisi ilmiah, Shobir berdiri di depan sebuah prototipe mesin yang ia beri nama "The Gaia Transformer". Mesin itu nampak kompleks dengan rangkaian pipa baja tahan karat dan reaktor anaerobik yang ia desain sendiri. Tujuannya hanya satu: mengubah gas metana dari sampah organik menjadi energi listrik murah bagi pemukiman kumuh. Sebuah persembahan cinta untuk masa lalunya.

"Alhamdulillah, akhirnya kau selesai juga, kawan," bisik Shobir lembut sambil mengusap permukaan dingin mesin tersebut. Jemarinya yang dulu kasar karena memegang pengait sampah, kini lincah mengoperasikan panel digital.

Kesuksesan prototipe itu segera menarik perhatian dunia bisnis. Tak butuh waktu lama bagi Shobir untuk mendapatkan undangan pertemuan dari perusahaan-perusahaan besar. Di sinilah babak baru pendakian hidupnya dimulai. Ia tidak lagi berhadapan dengan terik matahari TPA, melainkan dinginnya ruangan berpendingin udara di gedung pencakar langit yang lantai atasnya seolah bisa menyentuh awan.

Suatu siang, di sebuah restoran mewah dengan pemandangan cakrawala kota, Shobir bertemu dengan Adrian, seorang pengusaha muda yang dikenal sebagai "tangan dingin" dalam dunia investasi teknologi. Adrian tampil memukau dengan setelan jas seharga ribuan dolar dan senyum yang nampak tulus.

"Shobir, teknologi waste-to-energy milikmu bukan sekadar inovasi. Ini adalah revolusi. Aku ingin menyuntikkan dana besar untuk membangun startup bersamamu. Kita akan menamainya 'Lentera Hijau'. Dunia butuh ini, dan kau butuh panggung yang layak," ujar Adrian dengan nada penuh keyakinan.

Shobir menatap lawan bicaranya dengan saksama. Ia teringat pesan Pak Rahman untuk selalu berhati-hati, namun ia juga teringat impiannya untuk segera memberikan dampak luas bagi teman-temannya di pinggiran TPA.

"Niat saya membangun ini adalah untuk kemaslahatan, Pak Adrian. Selama visi kita sama, yaitu mengutamakan distribusi energi gratis untuk mereka yang membutuhkan di area kumuh, saya bersedia bekerja sama," jawab Shobir tenang.

"Tentu saja! Itu adalah bagian dari Corporate Social Responsibility kita nanti. Kita tanda tangani nota kesepahaman ini, dan tim hukumku akan mengurus patennya atas nama perusahaan kita bersama," Adrian menyodorkan map kulit hitam yang nampak elegan.

Bulan-bulan awal pembangunan startup terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Kantor yang megah, staf yang kompeten, dan sorot lampu media yang mulai meliput Shobir sebagai pahlawan lingkungan masa kini. Namun, di balik kemilau itu, kabut gelap mulai merayap. Shobir yang terlalu sibuk di laboratorium riset tidak menyadari bahwa struktur kepemilikan saham dan hak kekayaan intelektualnya perlahan-lahan digerogoti melalui celah hukum yang rumit dalam kontrak yang pernah ia tanda tangani.

Puncaknya terjadi pada suatu pagi yang dingin. Shobir mendapati akses masuk ke laboratoriumnya sendiri telah diblokir. Tidak ada lagi sapaan ramah dari para staf. Di meja lobi, ia diberikan sebuah amplop cokelat berisi surat pemberhentian tetap dan dokumen yang menyatakan bahwa seluruh hak paten "The Gaia Transformer" telah dialihkan sepenuhnya menjadi milik pribadi Adrian melalui sebuah anak perusahaan di luar negeri.

"Apa maksud semua ini, Adrian?" tanya Shobir saat ia berhasil menemui pria itu di ruang kerjanya yang luas. Suara Shobir tidak meninggi, namun ada getaran kekecewaan yang mendalam di sana.

Adrian memutar kursi mewahnya, wajahnya kini dingin tanpa secuil pun sisa keramahan yang dulu ia pamerkan. "Dunia bisnis bukan panti asuhan, Shobir. Kau punya otak yang brilian, tapi kau terlalu naif. Ide adalah komoditas. Sekarang, teknologi itu milikku. Kau bisa pergi dengan pesangon yang sudah kusiapkan, atau kau bisa menuntutku di pengadilan—yang tentu saja akan memakan waktu sepuluh tahun dan menghabiskan sisa uangmu."

Shobir terdiam. Dunia di sekitarnya seolah runtuh untuk kedua kalinya setelah kepergian Nenek Salmah. Ia dikhianati oleh orang yang ia percayai sebagai mitra perjuangan. Saat ia melangkah keluar dari gedung megah itu, hujan turun dengan deras, seolah langit ikut menangisi ketidakadilan yang menimpanya. Ia berdiri di pinggir jalan, basah kuyup, memegang tas punggung yang berisi mushaf tua dan catatan-catatan kecilnya.

Ia berjalan tanpa arah hingga kakinya membawanya kembali ke teras masjid tua tempat ia pertama kali bertemu Pak Rahman. Di sana, di sudut yang sunyi, Shobir bersujud. Air matanya luruh membasahi sajadah. Rasa sakit karena pengkhianatan itu lebih tajam daripada sayatan kaleng bekas di TPA.

"Ya Allah..." rintihnya dalam keheningan malam. "Hamba mengira puncak ini adalah tempat hamba bisa berbagi cahaya, namun ternyata ia hanyalah karang terjal yang penuh tipu daya. Jika ini adalah ujian atas rasa syukurku, maka kuatkanlah hatiku agar tidak membenci."

Dalam kesunyian itu, sebuah ketenangan aneh mulai meresap ke dalam jiwanya. Ia teringat kata-kata Nenek Salmah: "Syukur bukan tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang bagaimana hati memandang sang Pemberi Kehidupan."

Shobir menyeka air matanya. Ia menyadari satu hal yang tidak bisa dicuri oleh Adrian: ilmu di kepalanya dan iman di dadanya. Adrian mungkin bisa mengambil mesin baja itu, tapi ia tidak bisa mencuri rumus-rumus yang telah tertanam dalam ingatan Shobir, dan ia tidak akan pernah bisa mencuri keberkahan yang menyertai niat tulus.

"Terima kasih, Ya Allah, atas pelajaran ini," bisik Shobir. Kali ini ia tersenyum, bukan senyuman kemenangan, melainkan senyuman keikhlasan yang paripurna.

Keesokan harinya, Shobir tidak kembali ke kantor mewah itu. Ia kembali ke pinggiran kota, ke tempat di mana semuanya dimulai. Dengan sisa uang di sakunya, ia membeli beberapa barang bekas dari pengepul. Ia mulai merancang kembali sebuah sistem yang lebih sederhana, lebih efisien, dan kali ini, ia tidak akan membangunnya di atas gedung pencakar langit, melainkan langsung di jantung komunitas yang membutuhkannya. Pengkhianatan itu tidak memadamkan lenteranya; ia justru memecah kaca pelindungnya sehingga cahayanya kini bisa memancar lebih jauh, tanpa sekat kepentingan korporasi yang menyesakkan.

Baca Selengkapnya>>
posted under | 0 Comments

Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 3

 

Chapter 3: Cahaya Pengetahuan

Gedung panti asuhan dan sekolah "Lentera Harapan" itu berdiri dengan anggun di pinggiran kota yang lebih asri. Dindingnya yang berwarna krem pucat dinaungi oleh pohon-pohon angsana yang rimbun, menciptakan simfoni gemerisik daun setiap kali angin berhembus. Bagi Shobir, tempat ini bukan sekadar bangunan beton; ini adalah sebuah dermaga suci tempat kapal-kapal kecil yang hampir karam di lautan kemiskinan diizinkan untuk bersandar dan memperbaiki layar.

Pak Rahman mengantar Shobir ke sebuah kamar kecil yang bersih, jauh berbeda dari gubuknya yang bocor. Di sana terdapat sebuah ranjang tunggal dengan sprei wangi dan sebuah meja kayu yang permukaannya halus. Di atas meja itu, tersusun rapi beberapa buku tulis dan sebuah lampu belajar kecil yang cahayanya berwarna kuning hangat.

"Ini tempatmu sekarang, Shobir. Di sini, kau tidak perlu lagi mencemaskan perutmu atau di mana kau akan tidur. Fokuslah pada satu hal: nyalakan api di kepalamu dengan ilmu," ujar Pak Rahman sambil menepuk pundak Shobir dengan penuh kasih.

Shobir mengusap permukaan meja itu dengan jemarinya yang masih kasar karena kerja keras bertahun-tahun. "Terima kasih, Pak. Tapi, apakah boleh jika saya tetap bekerja di waktu luang? Saya tidak terbiasa hanya menerima tanpa memberi. Saya ingin tetap membiayai kebutuhan sekolah saya sendiri jika memungkinkan."

Pak Rahman tertegun sejenak, menatap mata Shobir yang berkilat jujur. "Hatimu terbuat dari emas, Nak. Jika itu yang kau inginkan, kau bisa membantu di perpustakaan atau di kebun panti. Tapi ingat, tugas utamamu adalah belajar."

Maka, dimulailah babak baru yang melelahkan namun membahagiakan. Setiap pagi, sebelum fajar menyapa, Shobir sudah bangun untuk menunaikan shalat Tahajud, membasahi lisan dengan zikir yang menjadi nutrisi bagi jiwanya. Siang harinya, ia duduk di kelas dengan punggung tegak, menyerap setiap kata yang keluar dari mulut guru-gurunya bagaikan tanah kering yang merindukan hujan. Namun, karena ia telah lama tertinggal dari pendidikan formal, Shobir harus bekerja sepuluh kali lebih keras daripada teman-temannya.

Malam hari adalah waktu di mana "pertarungan" yang sesungguhnya terjadi. Ketika santri atau siswa lain sudah terlelap, Shobir masih duduk di bawah temaram lampu belajar. Ia bergulat dengan rumus-rumus fisika yang rumit dan deretan angka matematika yang seolah menari-nari mengejeknya. Tak jarang, ia tertidur di atas meja dengan dahi menempel pada buku terbuka, hanya untuk terbangun beberapa jam kemudian dan melanjutkan kembali petualangan intelektualnya.

"Mengapa kau begitu terobsesi dengan buku-buku sains ini, Shobir?" tanya ustadz Khalid, salah satu pengajar, saat mendapati Shobir masih di perpustakaan pada jam sepuluh malam.

Shobir mendongak, matanya sedikit memerah karena kurang tidur, namun binar semangatnya tak pernah redup. "Saya ingin mengerti bagaimana dunia ini bekerja, Ustadz. Saat di TPA dulu, saya melihat tumpukan sampah yang bisa mencemari air. Saya bermimpi suatu hari nanti bisa menemukan cara untuk mengubah limbah itu menjadi energi atau sesuatu yang tidak menyakiti bumi Allah."

Suatu sore, sebuah pengumuman tertempel di papan informasi panti. Olimpiade Sains Nasional tingkat Provinsi akan segera diadakan. Sekolah "Lentera Harapan" berencana mengirimkan dua perwakilan terbaik mereka. Kabar itu menyebar cepat, memicu bisik-bisik di antara para siswa. Banyak yang meragukan Shobir, si anak baru yang dulu hanya seorang pemulung.

"Kau yakin mau ikut seleksi, bir? Ini bukan soal mencari botol plastik, ini soal logika dan teori thermodynamics yang rumit," celetuk seorang siswa bernama Dimas dengan nada yang sedikit meremehkan.

Shobir hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan ketenangan yang diajarkan Nenek Salmah. "Ilmu bukan milik mereka yang merasa pintar, Dimas, tapi milik mereka yang paling tekun mencarinya. Saya hanya ingin mencoba."

Hari seleksi tiba. Di ruang kelas yang sunyi, Shobir berhadapan dengan lembar soal yang sangat sulit. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya berpikir. Pengalaman hidupnya di jalanan dan TPA memberinya perspektif yang unik. Saat soal fisika berbicara tentang tekanan, ia membayangkan beban karung goni di pundaknya. Saat soal kimia berbicara tentang reaksi zat, ia membayangkan bau gas metana dari gunungan sampah yang membusuk. Ia tidak hanya menghafal rumus; ia merasakan ilmu itu mengalir dalam nadinya sebagai realitas kehidupan.

Seminggu kemudian, Pak Rahman memanggil seluruh siswa di aula. Wajahnya tampak bercahaya, menyimpan sebuah kejutan besar.

"Saya bangga mengumumkan bahwa perwakilan sekolah kita untuk Olimpiade Sains adalah Dimas..." Pak Rahman berhenti sejenak, membuat suasana semakin tegang. "...dan Shobir Al-Muchtar."

Aula itu mendadak hening. Shobir tertunduk, bukan karena malu, melainkan karena ia merasa dadanya sesak oleh rasa syukur yang membuncah. Ia teringat Nenek Salmah. Ia seolah mendengar suara parau neneknya berbisik di telinganya, "Syukur adalah pelita, Shobir."

"Ini baru permulaan, Shobir," bisik Pak Rahman saat mereka bersalaman di depan panggung. "Tunjukkan pada dunia bahwa mutiara yang lahir dari lumpur tetaplah mutiara yang akan menyinari kegelapan."

Malam itu, di bawah langit kota yang bertabur bintang, Shobir kembali membuka mushaf peninggalan ayahnya. Ia membaca ayat demi ayat dengan penuh penghayatan. Cahaya pengetahuan kini bukan lagi sekadar impian jauh di ufuk cakrawala; ia telah menjadi obor yang ia genggam erat. Dengan peralatan seadanya—buku-buku bekas yang ia kumpulkan dan logika yang ditempa oleh kerasnya aspal—Shobir bersiap untuk mendaki puncak yang lebih tinggi, membawa misi untuk mengubah setiap tetes keringatnya menjadi cahaya bagi sesama.

Baca Selengkapnya>>
posted under | 0 Comments

Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 2

 

Chapter 2: Senja yang Membawa Pergi

Langit sore itu tidak lagi menumpahkan warna jingga yang hangat; ia justru nampak pucat, seolah-olah awan sedang menahan napas dalam duka yang teramat dalam. Gerimis tipis mulai membasahi atap seng gubuk Shobir, menciptakan irama monoton yang terdengar seperti rintihan alam. Di dalam ruangan sempit yang lembap itu, bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma tanah basah, menciptakan suasana yang menyesakkan dada.

Shobir duduk bersimpuh di samping pembaringan Nenek Salmah. Tangan kecilnya terus memijat kaki sang nenek yang terasa semakin dingin. Neneknya tidak lagi terbatuk-batuk hebat seperti tadi pagi, namun keheningan ini justru membuat Shobir merasa lebih takut. Napas Nenek Salmah terdengar sangat pelan dan pendek, seakan-akan nyawanya sedang berjinjit di ujung tenggorokan, bersiap untuk terbang menuju keabadian.

"Nenek... minumlah sedikit air ini. Tadi Shobir campur dengan sedikit madu sisa kemarin," bisik Shobir dengan suara yang bergetar hebat. Ia berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh di depan wanita yang telah menjadi semestanya itu.

Nenek Salmah membuka matanya sedikit. Tatapannya layu, namun masih menyisakan sisa-sisa kasih sayang yang tak terbatas. Beliau tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang seolah merangkum seluruh keikhlasan hidupnya yang penuh penderitaan.

"Shobir, cucuku yang shalih..." suara Nenek nyaris tak terdengar, tertelan oleh desau angin yang menyelinap masuk melalui celah dinding triplek. "Jangan menangisi apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sekejap, seperti pengembara yang berteduh di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan."

Shobir menggeleng, air matanya kini tak lagi sanggup ia bendung. "Tapi Shobir belum siap, Nek. Siapa yang akan Shobir jaga jika Nenek tidak ada? Siapa yang akan mendengar cerita Shobir setiap pulang memulung?"

Nenek Salmah meraih tangan Shobir, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ada. Genggaman itu lemah, namun terasa begitu sakral di hati Shobir.

"Allah... Allah yang menjagamu, Shobir. Jangan pernah lepaskan rasa syukur itu dari hatimu. Syukur adalah pelita di tengah kegelapan paling pekat sekalipun. Jika kau memegang teguh syukur, maka dunia yang sempit ini akan terasa luas bagimu. La tahzan, innallaha ma'ana... Jangan bersedih, Allah bersama kita."

Setelah kalimat itu terucap, Nenek Salmah menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Bibirnya bergerak samar melafalkan kalimat tauhid, lalu semuanya menjadi sunyi. Sangat sunyi. Genggaman tangan itu perlahan melonggar, dan kepala Nenek terkulai lembut ke arah samping. Cahaya kehidupan di mata itu telah padam, meninggalkan Shobir dalam kehampaan yang tak terlukiskan.

"Nenek? Nenek!" seru Shobir. Ia mengguncang bahu neneknya dengan lembut, berharap ini hanya tidur yang lelap. Namun, tubuh dingin itu tak lagi memberikan jawaban. Di bawah temaram lampu teplok yang mulai kehabisan minyak, Shobir bersujud di samping jenazah neneknya. Ia menangis tersedu-sedu, namun dalam tangisnya, ia masih sempat berbisik, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Terima kasih Ya Allah, telah meminjamkan Nenek padaku selama ini."

Malam itu, dibantu oleh Pak Gani dan beberapa warga pinggiran TPA, jenazah Nenek Salmah diurus dengan sederhana. Tidak ada bunga-bunga mahal, tidak ada kerumunan orang-orang terpandang. Hanya doa-doa tulus yang terbang menuju langit dari mulut orang-orang yang juga dipinggirkan oleh nasib. Shobir berdiri tegak di depan pusara tanah merah yang masih basah, sementara hujan kini turun dengan derasnya, seolah ikut membasuh duka di hati sang yatim piatu.

Kepergian Nenek Salmah ternyata bukan hanya membawa duka, tapi juga badai kenyataan yang keras. Pemilik tanah tempat gubuk itu berdiri datang tiga hari kemudian, menagih sewa yang sudah menunggak berbulan-bulan. Shobir yang hanya memiliki beberapa lembar rupiah hasil memulung, tentu saja tidak sanggup membayar. Dengan berat hati dan air mata yang mengering, Shobir harus meninggalkan gubuk yang menjadi saksi bisu perjuangannya bersama Nenek.

"Maafkan aku, Shobir. Aku butuh uang ini untuk sekolah anakku," ujar pemilik tanah itu dengan nada yang sebenarnya juga merasa bersalah.

Shobir hanya mengangguk sopan. Ia memasukkan beberapa potong pakaian dan sebuah mushaf tua peninggalan ayahnya ke dalam tas ransel bekas yang ia temukan di TPA tempo hari. Ia melangkah keluar dari kawasan itu tanpa dendam. Baginya, bumi Allah sangatlah luas, dan ia percaya setiap langkah kaki yang dilandasi niat baik tidak akan pernah dibiarkan tersesat.

Kini, Shobir berada di pusat kota. Kota besar dengan gedung-gedung pencakar langit yang seolah ingin menembus awan, namun terasa sangat dingin dan asing bagi anak sekecil dirinya. Ia tidur di emperan toko, beralaskan kardus dan berselimutkan angin malam yang menusuk tulang. Perutnya seringkali berkeroncong hebat, namun ia tak pernah mengemis. Ia lebih memilih mencari sisa makanan yang masih layak di tempat sampah atau menawarkan jasa membawakan barang belanjaan orang di pasar.

Suatu siang, saat Shobir sedang duduk berteduh di bawah tangga sebuah gedung perkantoran mewah sambil membaca mushafnya, sebuah bayangan jatuh menutupi halamannya. Shobir mendongak dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri di depannya. Pria itu adalah sosok yang sama yang memperhatikannya di masjid tempo hari—pria dengan kemeja rapi dan tatapan mata yang teduh.

"Assalamu'alaikum, Nak. Apakah kau masih ingat denganku?" tanya pria itu sambil tersenyum ramah.

Shobir segera menutup mushafnya dan berdiri dengan takzim. "Wa'alaikumussalam. Bapak... Bapak yang ada di masjid waktu itu, kan?"

Pria itu mengangguk. "Namaku Rahman. Aku sudah mencarimu ke TPA, tapi kudengar kau sudah pindah. Mengapa kau berada di sini dengan tas besar ini?"

Shobir menunduk sejenak, lalu menceritakan semuanya dengan nada suara yang tetap tenang tanpa sedikit pun kesan ingin dikasihani. Pak Rahman mendengarkan dengan seksama, hatinya teriris melihat keteguhan jiwa anak di hadapannya. Ia telah bertemu banyak pengusaha hebat, namun ia jarang melihat tatapan yang begitu jernih dan penuh syukur seperti milik Shobir.

"Shobir, Allah mempertemukan kita bukan tanpa alasan," ujar Pak Rahman sambil memegang pundak Shobir. "Aku memiliki sebuah panti asuhan sekaligus sekolah gratis untuk anak-anak berbakat yang kurang beruntung. Aku ingin kau ikut denganku. Kau tidak perlu memulung lagi, kau bisa belajar sepuasmu di sana."

Mata Shobir membulat. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Baginya, pendidikan adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa ia impikan saat menatap anak-anak berseragam di jalanan. Ia jatuh terduduk, bukan karena lemah, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap.

"Benarkah, Pak? Bapak tidak sedang bercanda?" tanya Shobir dengan suara parau.

"Aku serius, Nak. Syukurmu telah mengetuk pintu langit, dan inilah jawaban atas doa-doamu. Maukah kau memulai babak baru dalam hidupmu?"

Shobir menengadah ke langit yang kini mulai cerah. Ia tahu, badai telah berlalu, dan meski ia harus berjalan tanpa Nenek Salmah di sisinya, ia yakin doa neneknya akan selalu menjadi angin yang mendorong layar hidupnya menuju pelabuhan kesuksesan. Dengan mantap, Shobir menyambut uluran tangan Pak Rahman, melangkah meninggalkan bayang-bayang kemiskinan menuju cahaya pengetahuan yang selama ini ia rindukan.

Baca Selengkapnya>>
posted under | 0 Comments

Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 1

Chapter 1: Melukis Cahaya di Atas Lumpur

Langit subuh di pinggiran kota masih berwarna abu-abu pekat ketika Shobir sudah memanggul karung goni kusam di pundak kecilnya. Udara dingin merayap masuk melalui pori-pori kaosnya yang sudah menipis dan penuh tambalan. Namun, anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tidak mengeluh. Baginya, setiap embun yang jatuh adalah sapaan lembut dari Tuhan yang harus dijawab dengan senyuman.

"Alhamdulillah," bisiknya pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin truk sampah yang mulai berdatangan.

Shobir melangkah dengan hati-hati di atas gundukan sampah yang licin karena sisa hujan semalam. Matanya yang jernih dengan sigap mencari botol plastik atau kaleng bekas yang bisa ditukar dengan koin-koin rupiah. Di tengah bau busuk yang menusuk hidung, Shobir justru sering menemukan 'harta karun' berupa sobekan majalah atau buku cerita yang sudah kehilangan sampulnya.

"Shobir! Kau sudah dapat banyak pagi ini?" seru Pak Gani, seorang pemulung tua yang sering berbagi area dengannya.

Shobir menoleh dan menunjukkan jempolnya sambil tersenyum lebar.

"Belum terlalu banyak, Pak Gani. Tapi cukup untuk membeli obat batuk Nenek hari ini, insya Allah," jawab Shobir dengan nada riang.

Pak Gani menggelengkan kepala, merasa kagum sekaligus kasihan. Dia tahu betul bahwa hidup Shobir sangat jauh dari kata layak. Namun, entah mengapa, wajah anak itu selalu tampak tenang, seolah-olah dia memiliki rahasia kebahagiaan yang tidak diketahui orang lain.

"Kamu itu luar biasa, Nak. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah memaki takdir setiap hari," ujar Pak Gani sambil menyeka keringat di dahinya.

Shobir berhenti sejenak, menatap langit yang mulai menyemburkan warna jingga di ufuk timur.

"Ayah pernah bilang, Pak, kalau kita sibuk menghitung apa yang tidak kita miliki, kita akan lupa menikmati apa yang ada di tangan kita. Napas ini saja sudah merupakan modal yang sangat besar dari Allah," kata Shobir dengan kedewasaan yang melampaui usianya.

Setelah tiga jam berjibaku dengan sampah, Shobir kembali ke rumahnya. Sebuah gubuk berukuran tiga kali empat meter dengan dinding triplek bekas dan atap seng yang sering bocor saat hujan turun lebat. Di dalamnya, Nenek Salmah sedang terbatuk-batuk kecil sambil berusaha menyalakan kompor minyak tanah.

"Nenek, biar Shobir saja yang masak," ujar Shobir sambil segera mengambil alih pekerjaan neneknya.

Nenek Salmah menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersalah karena di usia senjanya, dia justru menjadi beban bagi Shobir yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah dengan tenang.

"Maafkan Nenek, Shobir. Seharusnya Nenek yang mengurusmu, bukan sebaliknya," lirih Nenek Salmah.

Shobir memegang tangan neneknya yang kasar dan keriput, lalu mengecupnya dengan takzim.

"Nenek jangan bicara begitu. Menjaga Nenek adalah cara Shobir masuk surga. Lagipula, Shobir bahagia bisa bersama Nenek. Ana uhibbuki fillah, Nek. Aku mencintaimu karena Allah," ucap Shobir lembut.

Siang itu, mereka hanya makan dengan sepiring nasi putih dan sebutir telur dadar yang dibagi dua. Bagi orang lain, itu mungkin menu yang menyedihkan. Namun bagi Shobir, setiap suap nasi adalah berkah yang tiada tara. Dia mengunyahnya dengan perlahan, menutup mata, dan berkali-kali melafalkan pujian pada Sang Khalik.

Namun, ujian kesabaran Shobir hari itu belum usai. Saat dia hendak pergi ke masjid untuk shalat Zuhur, sekelompok anak sebaya yang memakai seragam sekolah rapi mengadangnya di jalan setapak.

"Hei, lihat! Si Raja Sampah lewat!" teriak seorang anak bertubuh tambun bernama Baron.

Teman-temannya tertawa mengejek. Baron sengaja menyenggol bahu Shobir hingga anak itu hampir terjatuh ke selokan kecil yang berlumpur.

"Bau sekali badanmu, Shobir. Jangan dekat-dekat kami, nanti seragam kami ikut bau sampah!" ejek Baron lagi sambil menutup hidungnya.

Shobir terdiam. Ada rasa perih di hatinya, namun dia tidak membalas dengan kemarahan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya.

"Maaf kalau bauku mengganggu kalian. Aku hanya sedang berusaha mencari nafkah yang halal," kata Shobir dengan suara tenang namun tegas.

"Halal? Memangnya memulung itu bisa membuatmu kaya? Sampai mati pun kamu akan tetap jadi sampah!" seru Baron sambil meludah ke tanah.

Shobir hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan ketabahan. Dia tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada mereka saat ini. Baginya, kemiskinan harta bukanlah sebuah kehinaan, tapi kemiskinan adab adalah sebenar-benarnya kegagalan hidup.

Dia melanjutkan langkahnya menuju masjid. Di sana, di depan rumah Tuhan, Shobir bersujud sangat lama. Dalam diamnya, dia menumpahkan segala keluh kesah dan impiannya. Dia meminta kekuatan agar tidak pernah menyerah, agar selalu bisa bersyukur, dan agar suatu hari nanti dia bisa merubah nasibnya dan membantu orang-orang yang senasib dengannya.

"Ya Allah, bimbinglah langkahku. Jadikanlah kesabaran ini sebagai senjataku, dan rasa syukur ini sebagai cahayaku," rintihnya dalam doa.

Tanpa disadari Shobir, di sudut masjid, seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi sedang memperhatikannya sejak tadi. Pria itu terpaku melihat ketenangan luar biasa dari seorang anak pemulung yang baru saja dihina habis-habisan di jalanan. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Shobir—sebuah kilatan api semangat yang tak mudah padam oleh badai mana pun.

Hari itu, di bawah atap masjid yang sejuk, sebuah takdir baru mulai ditenun untuk Shobir. Dia belum tahu bahwa kejujuran dan ketabahannya sedang membuka pintu-pintu langit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Baca Selengkapnya>>
posted under | 0 Comments

Tutorial mengatur ukuran bandwidth Pada Mikrotik Melalui Winbox!

Terkadang apabila kita mempunyai suatu jaringan, misalkan itu disekolah, kadangkala pemakaian internet oleh user sering kali berjalan tidak adil. Kenapa demikian? Sebab apabila beberapa User memanfaatkan internet pada jaringan kita yang mana itu digunakan utk mengunduh file-file berukuran besar, maka ini akan membuat jaringan kita menjadi lelet sehingga user yang lainnya pun akan ikut terganggu! Nah, untuk mengatasi hal yang demikian, saya punya tipsnya nih buat sobat-sobat sekalian yang membutuhkan. Dan tutorial kali ini kita masih pake mikrotik dan winbox tentunya!
Ok, to the point aja ya! Misalkan nih, kita akan membatasi bandwidth client dengan ip 192.168.0.3 yaitu untuk upstream 64kbps dan downstream 128kbps
Setting pada menu Queues>Simple Queues

Queue tree
Klik menu ip>firewall>magle

  Buat rule (klik tanda + merah) dengan parameter sbb:
  Pada tab General:
  Chain=forward,
  Src.address=192.168.0.3 (atau ip yg ingin di limit)
  Pada tab Action :
  Action = mark connection,
  New connection mark=client3-con (atau nama dari mark conection yg kita buat)
  Klik Apply dan OK

  Buat rule lagi dengan parameter sbb:
  Pada tab General: Chain=forward,
  Connection mark=client3-con (pilih dari dropdown menu)
  Pada tab Action:
  Action=mark packet,
  New pcket Mark=client3 (atau nama packet mark yg kita buat)
  Klik Apply dan OK

Klik menu Queues>Queues Tree

 Buat rule (klik tanda + merah) dengan parameter sbb:
 
 
  Pada tab General:
  Name=client3-in (misal),
  Parent=public (adalah interface yg arah keluar),
  Paket Mark=client3 (pilih dari dropdown, sama yg  kita buat pada magle),
  Queue Type=default,
  Priority=8,
  Max limit=64k (untuk seting bandwith max download)
  Klik aplly dan Ok

  Buat rule lagi dengan parameter sbb:
  Pada tab General:
  Name=client3-up (misal),
  Parent=local (adalah interface yg arah kedalam),
  Paket Mark=client3 (pilih dari dropdown, sama yg  kita buat pada magle),
  Queue Type=default,
  Priority=8,
  Max limit=64k (untuk seting bandwith max upload)
  Klik aplly dan Ok
Selesai deh! ^_^

Baca Selengkapnya>>

Tutorial Cara Memblokir Situs Menggunakan WinBox Mikrotik!


Internet  pada masa kini memang suatu kebutuhan yang bisa dikategorikan sebagai kebutuhan sekunder, bukan lagi tersier! Karena pada faktanya, selain untuk menambah wawasan akan keilmuan, juga sebagai ladang informasi yang besar dan praktis sehingga bisa kita gunakan untuk mencari informasi-informasi penting yang bisa kita cari dengan mudah! Jadi, bukanlah sesuatu yang mengherankan dan berlebihan, apabila internet dikatakan oleh sebagian besar orang sebagai perpustakaan terbesar didunia!
Namun terkadang tidak semua yang ada di internet itu adalah berdampak positif. Ya, karena memang internet sendiri adalah buatan manusia, dan manusia itu diberikan nafsu oleh Tuhan, sehingga didalam perbuatannya itu ada kalanya benar dan ada kalanya salah! Jadi di dalam dunia maya pun ada juga situs-situs yang memang apabila dibuka dan diperlihatkan isinya, itu akan menjadikan si pengguna internet “layu sebelum berkembang”, bahkan bisa lebih parah daripada itu! Nah, maka dari itu, berdasarkan hal tersebut,  saya akan sharing mengenai cara memblokir situs-situs berbahaya pada jaringan milik kita dengan menggunakan aplikasi Winbox Mikrotik!
Ok, to the point saja. Silahkan login terlebih dahulu pada winbox mikrotiknya masing-masing! Kemudia arahkan cursor mouse anda kepada IP >> Web Proxy! Dan aturlah web proxy  pada tab settingannya!

Setelah itu tekan tombol “+” sehingga muncul sebuah form. Maka aturlah itu seperti pada gambar sbb:

Kemudian klik Ok, maka akan muncul Keterangan situs-situs yang tadi kita blokir pada form Web Proxynya.

Untuk mencoba pekerjaan yang kita lakukan ini apakah berhasil atau tidak, maka silahkan kita tes terlebih dahulu, dengan cara mengetikkan situs yang tadi kita blokir kepada mesin pencarian seperti google, dsb! Apabila situsnya tidak terbuka, maka pekerjaan kita telah dikatakan berhasil!
Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan kepada kalian di Catatan Akbar kali ini. Semoga untuk kalian bermanfaat, dan akan menjadi amal jariyyah untuk saya pribadi. Akhir kata saya ucapkan “Selamat Mencoba !!!”


Baca Selengkapnya>>
Postingan Lama

Tentang Penulis

Foto saya
Perkenalkan namaku Ridwan Akbar, Aku lahir di kota Majalengka. Terima Kasih! ^_^

Catatan Inspirasiku

Pendukungku

bunga-jodoh.com

Kalender Masehi

Iklan Pilihan


Recent Comments