Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 2

 

Chapter 2: Senja yang Membawa Pergi

Langit sore itu tidak lagi menumpahkan warna jingga yang hangat; ia justru nampak pucat, seolah-olah awan sedang menahan napas dalam duka yang teramat dalam. Gerimis tipis mulai membasahi atap seng gubuk Shobir, menciptakan irama monoton yang terdengar seperti rintihan alam. Di dalam ruangan sempit yang lembap itu, bau minyak kayu putih bercampur dengan aroma tanah basah, menciptakan suasana yang menyesakkan dada.

Shobir duduk bersimpuh di samping pembaringan Nenek Salmah. Tangan kecilnya terus memijat kaki sang nenek yang terasa semakin dingin. Neneknya tidak lagi terbatuk-batuk hebat seperti tadi pagi, namun keheningan ini justru membuat Shobir merasa lebih takut. Napas Nenek Salmah terdengar sangat pelan dan pendek, seakan-akan nyawanya sedang berjinjit di ujung tenggorokan, bersiap untuk terbang menuju keabadian.

"Nenek... minumlah sedikit air ini. Tadi Shobir campur dengan sedikit madu sisa kemarin," bisik Shobir dengan suara yang bergetar hebat. Ia berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh di depan wanita yang telah menjadi semestanya itu.

Nenek Salmah membuka matanya sedikit. Tatapannya layu, namun masih menyisakan sisa-sisa kasih sayang yang tak terbatas. Beliau tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang seolah merangkum seluruh keikhlasan hidupnya yang penuh penderitaan.

"Shobir, cucuku yang shalih..." suara Nenek nyaris tak terdengar, tertelan oleh desau angin yang menyelinap masuk melalui celah dinding triplek. "Jangan menangisi apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sekejap, seperti pengembara yang berteduh di bawah pohon sebelum melanjutkan perjalanan."

Shobir menggeleng, air matanya kini tak lagi sanggup ia bendung. "Tapi Shobir belum siap, Nek. Siapa yang akan Shobir jaga jika Nenek tidak ada? Siapa yang akan mendengar cerita Shobir setiap pulang memulung?"

Nenek Salmah meraih tangan Shobir, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ada. Genggaman itu lemah, namun terasa begitu sakral di hati Shobir.

"Allah... Allah yang menjagamu, Shobir. Jangan pernah lepaskan rasa syukur itu dari hatimu. Syukur adalah pelita di tengah kegelapan paling pekat sekalipun. Jika kau memegang teguh syukur, maka dunia yang sempit ini akan terasa luas bagimu. La tahzan, innallaha ma'ana... Jangan bersedih, Allah bersama kita."

Setelah kalimat itu terucap, Nenek Salmah menarik napas panjang untuk terakhir kalinya. Bibirnya bergerak samar melafalkan kalimat tauhid, lalu semuanya menjadi sunyi. Sangat sunyi. Genggaman tangan itu perlahan melonggar, dan kepala Nenek terkulai lembut ke arah samping. Cahaya kehidupan di mata itu telah padam, meninggalkan Shobir dalam kehampaan yang tak terlukiskan.

"Nenek? Nenek!" seru Shobir. Ia mengguncang bahu neneknya dengan lembut, berharap ini hanya tidur yang lelap. Namun, tubuh dingin itu tak lagi memberikan jawaban. Di bawah temaram lampu teplok yang mulai kehabisan minyak, Shobir bersujud di samping jenazah neneknya. Ia menangis tersedu-sedu, namun dalam tangisnya, ia masih sempat berbisik, "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Terima kasih Ya Allah, telah meminjamkan Nenek padaku selama ini."

Malam itu, dibantu oleh Pak Gani dan beberapa warga pinggiran TPA, jenazah Nenek Salmah diurus dengan sederhana. Tidak ada bunga-bunga mahal, tidak ada kerumunan orang-orang terpandang. Hanya doa-doa tulus yang terbang menuju langit dari mulut orang-orang yang juga dipinggirkan oleh nasib. Shobir berdiri tegak di depan pusara tanah merah yang masih basah, sementara hujan kini turun dengan derasnya, seolah ikut membasuh duka di hati sang yatim piatu.

Kepergian Nenek Salmah ternyata bukan hanya membawa duka, tapi juga badai kenyataan yang keras. Pemilik tanah tempat gubuk itu berdiri datang tiga hari kemudian, menagih sewa yang sudah menunggak berbulan-bulan. Shobir yang hanya memiliki beberapa lembar rupiah hasil memulung, tentu saja tidak sanggup membayar. Dengan berat hati dan air mata yang mengering, Shobir harus meninggalkan gubuk yang menjadi saksi bisu perjuangannya bersama Nenek.

"Maafkan aku, Shobir. Aku butuh uang ini untuk sekolah anakku," ujar pemilik tanah itu dengan nada yang sebenarnya juga merasa bersalah.

Shobir hanya mengangguk sopan. Ia memasukkan beberapa potong pakaian dan sebuah mushaf tua peninggalan ayahnya ke dalam tas ransel bekas yang ia temukan di TPA tempo hari. Ia melangkah keluar dari kawasan itu tanpa dendam. Baginya, bumi Allah sangatlah luas, dan ia percaya setiap langkah kaki yang dilandasi niat baik tidak akan pernah dibiarkan tersesat.

Kini, Shobir berada di pusat kota. Kota besar dengan gedung-gedung pencakar langit yang seolah ingin menembus awan, namun terasa sangat dingin dan asing bagi anak sekecil dirinya. Ia tidur di emperan toko, beralaskan kardus dan berselimutkan angin malam yang menusuk tulang. Perutnya seringkali berkeroncong hebat, namun ia tak pernah mengemis. Ia lebih memilih mencari sisa makanan yang masih layak di tempat sampah atau menawarkan jasa membawakan barang belanjaan orang di pasar.

Suatu siang, saat Shobir sedang duduk berteduh di bawah tangga sebuah gedung perkantoran mewah sambil membaca mushafnya, sebuah bayangan jatuh menutupi halamannya. Shobir mendongak dan mendapati seorang pria paruh baya berdiri di depannya. Pria itu adalah sosok yang sama yang memperhatikannya di masjid tempo hari—pria dengan kemeja rapi dan tatapan mata yang teduh.

"Assalamu'alaikum, Nak. Apakah kau masih ingat denganku?" tanya pria itu sambil tersenyum ramah.

Shobir segera menutup mushafnya dan berdiri dengan takzim. "Wa'alaikumussalam. Bapak... Bapak yang ada di masjid waktu itu, kan?"

Pria itu mengangguk. "Namaku Rahman. Aku sudah mencarimu ke TPA, tapi kudengar kau sudah pindah. Mengapa kau berada di sini dengan tas besar ini?"

Shobir menunduk sejenak, lalu menceritakan semuanya dengan nada suara yang tetap tenang tanpa sedikit pun kesan ingin dikasihani. Pak Rahman mendengarkan dengan seksama, hatinya teriris melihat keteguhan jiwa anak di hadapannya. Ia telah bertemu banyak pengusaha hebat, namun ia jarang melihat tatapan yang begitu jernih dan penuh syukur seperti milik Shobir.

"Shobir, Allah mempertemukan kita bukan tanpa alasan," ujar Pak Rahman sambil memegang pundak Shobir. "Aku memiliki sebuah panti asuhan sekaligus sekolah gratis untuk anak-anak berbakat yang kurang beruntung. Aku ingin kau ikut denganku. Kau tidak perlu memulung lagi, kau bisa belajar sepuasmu di sana."

Mata Shobir membulat. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Baginya, pendidikan adalah sebuah kemewahan yang hanya bisa ia impikan saat menatap anak-anak berseragam di jalanan. Ia jatuh terduduk, bukan karena lemah, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap.

"Benarkah, Pak? Bapak tidak sedang bercanda?" tanya Shobir dengan suara parau.

"Aku serius, Nak. Syukurmu telah mengetuk pintu langit, dan inilah jawaban atas doa-doamu. Maukah kau memulai babak baru dalam hidupmu?"

Shobir menengadah ke langit yang kini mulai cerah. Ia tahu, badai telah berlalu, dan meski ia harus berjalan tanpa Nenek Salmah di sisinya, ia yakin doa neneknya akan selalu menjadi angin yang mendorong layar hidupnya menuju pelabuhan kesuksesan. Dengan mantap, Shobir menyambut uluran tangan Pak Rahman, melangkah meninggalkan bayang-bayang kemiskinan menuju cahaya pengetahuan yang selama ini ia rindukan.

Anda sedang membaca artikel tentang Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 2 ini dengan url https://duniawebra-inspirasiku.blogspot.com/2013/02/cerbung-lentera-syukur-ch-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya dan mengeditnya jika artikel Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 2 sumbernya.

Terjemahkan Dengan Bahasa: by

Baca juga ini:



posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Tentang Penulis

Foto saya
Perkenalkan namaku Ridwan Akbar, Aku lahir di kota Majalengka. Terima Kasih! ^_^

Catatan Inspirasiku

Pendukungku

bunga-jodoh.com

Kalender Masehi

Iklan Pilihan


Recent Comments