Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 1

Chapter 1: Melukis Cahaya di Atas Lumpur

Langit subuh di pinggiran kota masih berwarna abu-abu pekat ketika Shobir sudah memanggul karung goni kusam di pundak kecilnya. Udara dingin merayap masuk melalui pori-pori kaosnya yang sudah menipis dan penuh tambalan. Namun, anak laki-laki berusia dua belas tahun itu tidak mengeluh. Baginya, setiap embun yang jatuh adalah sapaan lembut dari Tuhan yang harus dijawab dengan senyuman.

"Alhamdulillah," bisiknya pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin truk sampah yang mulai berdatangan.

Shobir melangkah dengan hati-hati di atas gundukan sampah yang licin karena sisa hujan semalam. Matanya yang jernih dengan sigap mencari botol plastik atau kaleng bekas yang bisa ditukar dengan koin-koin rupiah. Di tengah bau busuk yang menusuk hidung, Shobir justru sering menemukan 'harta karun' berupa sobekan majalah atau buku cerita yang sudah kehilangan sampulnya.

"Shobir! Kau sudah dapat banyak pagi ini?" seru Pak Gani, seorang pemulung tua yang sering berbagi area dengannya.

Shobir menoleh dan menunjukkan jempolnya sambil tersenyum lebar.

"Belum terlalu banyak, Pak Gani. Tapi cukup untuk membeli obat batuk Nenek hari ini, insya Allah," jawab Shobir dengan nada riang.

Pak Gani menggelengkan kepala, merasa kagum sekaligus kasihan. Dia tahu betul bahwa hidup Shobir sangat jauh dari kata layak. Namun, entah mengapa, wajah anak itu selalu tampak tenang, seolah-olah dia memiliki rahasia kebahagiaan yang tidak diketahui orang lain.

"Kamu itu luar biasa, Nak. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah memaki takdir setiap hari," ujar Pak Gani sambil menyeka keringat di dahinya.

Shobir berhenti sejenak, menatap langit yang mulai menyemburkan warna jingga di ufuk timur.

"Ayah pernah bilang, Pak, kalau kita sibuk menghitung apa yang tidak kita miliki, kita akan lupa menikmati apa yang ada di tangan kita. Napas ini saja sudah merupakan modal yang sangat besar dari Allah," kata Shobir dengan kedewasaan yang melampaui usianya.

Setelah tiga jam berjibaku dengan sampah, Shobir kembali ke rumahnya. Sebuah gubuk berukuran tiga kali empat meter dengan dinding triplek bekas dan atap seng yang sering bocor saat hujan turun lebat. Di dalamnya, Nenek Salmah sedang terbatuk-batuk kecil sambil berusaha menyalakan kompor minyak tanah.

"Nenek, biar Shobir saja yang masak," ujar Shobir sambil segera mengambil alih pekerjaan neneknya.

Nenek Salmah menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersalah karena di usia senjanya, dia justru menjadi beban bagi Shobir yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah dengan tenang.

"Maafkan Nenek, Shobir. Seharusnya Nenek yang mengurusmu, bukan sebaliknya," lirih Nenek Salmah.

Shobir memegang tangan neneknya yang kasar dan keriput, lalu mengecupnya dengan takzim.

"Nenek jangan bicara begitu. Menjaga Nenek adalah cara Shobir masuk surga. Lagipula, Shobir bahagia bisa bersama Nenek. Ana uhibbuki fillah, Nek. Aku mencintaimu karena Allah," ucap Shobir lembut.

Siang itu, mereka hanya makan dengan sepiring nasi putih dan sebutir telur dadar yang dibagi dua. Bagi orang lain, itu mungkin menu yang menyedihkan. Namun bagi Shobir, setiap suap nasi adalah berkah yang tiada tara. Dia mengunyahnya dengan perlahan, menutup mata, dan berkali-kali melafalkan pujian pada Sang Khalik.

Namun, ujian kesabaran Shobir hari itu belum usai. Saat dia hendak pergi ke masjid untuk shalat Zuhur, sekelompok anak sebaya yang memakai seragam sekolah rapi mengadangnya di jalan setapak.

"Hei, lihat! Si Raja Sampah lewat!" teriak seorang anak bertubuh tambun bernama Baron.

Teman-temannya tertawa mengejek. Baron sengaja menyenggol bahu Shobir hingga anak itu hampir terjatuh ke selokan kecil yang berlumpur.

"Bau sekali badanmu, Shobir. Jangan dekat-dekat kami, nanti seragam kami ikut bau sampah!" ejek Baron lagi sambil menutup hidungnya.

Shobir terdiam. Ada rasa perih di hatinya, namun dia tidak membalas dengan kemarahan. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya.

"Maaf kalau bauku mengganggu kalian. Aku hanya sedang berusaha mencari nafkah yang halal," kata Shobir dengan suara tenang namun tegas.

"Halal? Memangnya memulung itu bisa membuatmu kaya? Sampai mati pun kamu akan tetap jadi sampah!" seru Baron sambil meludah ke tanah.

Shobir hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan ketabahan. Dia tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada mereka saat ini. Baginya, kemiskinan harta bukanlah sebuah kehinaan, tapi kemiskinan adab adalah sebenar-benarnya kegagalan hidup.

Dia melanjutkan langkahnya menuju masjid. Di sana, di depan rumah Tuhan, Shobir bersujud sangat lama. Dalam diamnya, dia menumpahkan segala keluh kesah dan impiannya. Dia meminta kekuatan agar tidak pernah menyerah, agar selalu bisa bersyukur, dan agar suatu hari nanti dia bisa merubah nasibnya dan membantu orang-orang yang senasib dengannya.

"Ya Allah, bimbinglah langkahku. Jadikanlah kesabaran ini sebagai senjataku, dan rasa syukur ini sebagai cahayaku," rintihnya dalam doa.

Tanpa disadari Shobir, di sudut masjid, seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi sedang memperhatikannya sejak tadi. Pria itu terpaku melihat ketenangan luar biasa dari seorang anak pemulung yang baru saja dihina habis-habisan di jalanan. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata Shobir—sebuah kilatan api semangat yang tak mudah padam oleh badai mana pun.

Hari itu, di bawah atap masjid yang sejuk, sebuah takdir baru mulai ditenun untuk Shobir. Dia belum tahu bahwa kejujuran dan ketabahannya sedang membuka pintu-pintu langit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Anda sedang membaca artikel tentang Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 1 ini dengan url https://duniawebra-inspirasiku.blogspot.com/2013/02/cerbung-lentera-syukur-ch-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya dan mengeditnya jika artikel Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerbung: Lentera Syukur - Ch. 1 sumbernya.

Terjemahkan Dengan Bahasa: by

Baca juga ini:



posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Tentang Penulis

Foto saya
Perkenalkan namaku Ridwan Akbar, Aku lahir di kota Majalengka. Terima Kasih! ^_^

Catatan Inspirasiku

Pendukungku

bunga-jodoh.com

Kalender Masehi

Iklan Pilihan


Recent Comments